Showing posts with label sepeda. Show all posts
Showing posts with label sepeda. Show all posts

Reparasi Klep Pompa Sepeda

>> 16 May 2016

Pernahkah sobat mengalami kejadian seperti ini, Saat asyik memompa sepeda dengan kekuatan penuh, tiba-tiba pompa terasa ringan (bahasa jawa :ngempos). Otomatis angin dari dalam pompa tidak masuk dalam ban, tapi hanya sekedar berputar di pompa saja.

kalau itu terjadi, segera bongkar pompa anda. Dalam hal ini saya membongkar pompa merk Genio yang saya pakai sudah hampir 3 tahun. Pompa ini sudah 3 kali saya ganti klep-nya, termasuk klep yang barusan saya beli di Toko Sepeda di Seputaran Pernas Condong Catur, Ringroad Utara Yogyakarta.



Pertama kali di bongkar penampakan klep pompa adalah seperti ini, bagian luar sudah mulai terkikis kulitnya.  Pertolongan pertama yang bisa dilakukan saat kita bener-bener butuh adalah melumasi bagian samping klep dengan oli. Setelah itu dimasukkan kembali ke selongsong-nya. Jika beruntung, kita bisa memompa sampai satu ban sepeda hingga keras, 

Untuk amannya segera ke toko onderdil sepeda dan cari ukuran klep yang pas. Kebetulan pompa saya ukuran klep-nya 3 cm. 

Saat dibongkar, urutan pemasangan dan pembongkaran-nya adalah sebagai berikut : jangan sampai tertukar  Karena itu akan menyulitkan anda . Selamat mereparasi Pompa Sepeda Anda



Read more...

Gowes sehat

>> 09 June 2009

Setelah kemarin sempat menderita kejenuhan akibat nothing to do and nothing insiative, pulang kantor saya putuskan naik sepeda. Perjalanan yang lumayan mengurangi stress. 15km selesai dalam waktu satu jam.

Pagi ini,10 Juni 2009, saya putuskan nyepeda lagi dari Maguwo-pasar stan-stadion maguwoharjo-pesona pingka-gandok-merapi view-rejodani-grojokan-ge ligthing-satunama.

Rute terberat adalah dari stadion maguwo sampai gandok, dimana tanjakan yang tidak terlihat tinggi mampu menghabiskan nafas. Walaupun saya sudah stel kalem dalam mengenjot, tapi tetep aja kerasa beratnya. step by step saya jalani dengan peluh yang mengalir bagaikan air di selokan :-), akhirnya begitu sampai merapi view saya berkata" hilang sudah siksaan ini" karena rute yang relatif datar sehingga memungkinkan sepeda dikendarai dengan kecepatan maksimal. Akhirnya sampai juga di satunama setelah menghabiskan sejam lima belas menit di atas sedel sepeda onta.

Read more...

Berapa ongkos ganti ban sepeda ?

>> 08 June 2009

Sore ini 8 Juni 09, setelah kerasa capek banget seharian di depan komputer tanpa ngerjain sesuatu yang menantang, saya memutuskan mengayuh ontel saya menuju bengkel sepeda di dekat pabrik lampu GE, Denggung, Sleman untuk mengganti ban luar yang sudah uzur di makan usia. Karetnya sudah sangat halus, sehingga membuat was-was jika dikendarai.

Setelah sampai di bengkel dan basa-basi sebentar dengan mekanik yang mengerjakan, dia menawarkan dua opsi ban. versi baj=biasa aja seharga 22rb plus 3 rb ongkos pasang, atau yang premium 32 rb plus 3 rb ongkos pasang. Pikir punya pikir karena kondisi sepeda ontel saya tidak bagus-bagus amat, maka sementara saya putuskan mengganti dengan ban luar dengan kualitas yang biasa dengan pertimbangan selisih ganti bannya bisa dipakai untuk beli standar samping, karena selama ini kalau ingin memarkirkan onthel, harus cari tembok atau pohon.

Mekanik mengerjakan dengan sangat cepat proses penggantian ban itu, tanpa banyak cing cong, bongkar sana-sini, tahu-tahu udah beres. dengan membayar 35 rb, hari ini sepeda ontelku udah berganti ban

Read more...

Bersepedalah maka engkau akan sembuh

>> 28 April 2009

Dalam suatu kesempatan berbincang di kantor dengan seorang teman-- yang adalah seorang desainer grafis lulusan salah satu institute seni terkenal di Yogyakarta—kami ngobrol cukup hangat, karena memang sudah cukup lama kami tidak bertemu. Biasa, setelah berbasa-basi saling menanyakan kesibukan masing-masing maka topik pembicaraan langsung berganti. Saya mulai bercerita tentang kesukaan saya merawat sepeda motor tua, dan diapun bercerita tentang hobinya bersepeda “downhill” .


Topikpun segera berganti ke sepeda. Saya mulai penasaran dan mulai meminta agar bercerita tentang segala hal tentang sepeda. Sengaja saya pancing dengan topic sepeda, karena di album foto facebook-nya, banyak gambar dengan tema sepeda.


Setelah berbicara seperempat jam lebih, ngalor ngidul, mulailah dia mengeluh terhadap hobi yang sedang dijalaninya itu, kantongnya sering jebol gara gara teman satu klubnya sering memanasi dia agar menggunakan komponen sepeda yang lebih branded. Apa mau dikata, review terhadap komponen tertentu dari temannyapun langsung di-iya-in. Karuan saja, kantongnya kedodoran terus.

Ternyata pengalaman teman yang satu ini tidak beda jauh dengan pengalaman ipar saya yang juga punya kegemaran mendandani sepeda.


Dalam berbagai obrolan, performa sepedanya dicitrakan tangguh mampu menghadapi segala medan. Sebagai konsekuensi dari hal ini tentu saja biaya yang dikeluarkan untuk memiliki ketangguhan sebanding dengan yang di dapat.


Kadang sambil menarik nafas dalam-dalam, untuk mencoba berfikir jernih, saya berfikir mengapa aktivitas bersepeda menjadi begitu mahal dan elit. Naik sepeda yang tadinya adalah kegiatan lumrah, belakangan ini menjadi aktivitas yang membutuhkan modal besar.


Dilihat dari logikanya, untuk mendapatkan barang yang baik tentunya membutuhkan modal. Besar kecilnya modal tergantung pada merk apa yang mereka pilih. Maklum saja sepeda yang mereka beli digunakan untuk kegiatan “ekstrem” seperti melompati gundukan dan menerabas jalan-jalan jelek dengan kecepatan tinggi. Sehingga modal yang dibutuhkan untuk membeli durabilitas itu memang tinggi.


Berefleksi dari hal ini, saya sendiri ingin mengkritisi kelakuan saya pada minggu ke-4 april 2009. Diam-diam saya mulai tertular virus sepeda. Saya rasa-rasakan perubahan ini terjadi bukan hal yang lumrah, nampaknya ada angin kencang dari luar yang mendorong saya untuk bersepeda.

Sudah pasti, bukan sepeda yang berharga jutaan yang saya pakai, tetapi hanya sebuah sepeda tua yang tidak jelas mereknya dan sudah dilas ulang pada bagian bodynya, serta pelek belakang yang mulai digerogoti karat, peyang,dan berban gundul- yang bukan tipe slick.


Pilihan terhadap barang ini, tidak berarti saya menomor dua-kan safety dan kenyamanan, tetapi lebih kepada idealisme dan semangat :’rebellion” dalam diri saya terhadap kondisi yang sedang berlaku.


Jika dirunut secara psikologis pasti ada masalah dibalik itu, seperti misalnya, tekanan terhadap kondisi keuangan saya yang tidak memungkin membeli sepeda dengan bandrol harga jutaan, sehingga sebagai reaksi terhadap terhadap tekanan tersebut , muncul suatu aksi yang harus dilakukan.


Aksi itu adalah menebus sepeda onta seharga kurang dari dua ratus ribu untuk berolah raga dan sekaligus melakukan protes terhadap teman-teman yang jor-joran meng-upgrade onderdil sepedanya secara berkala walaupun secara fisik barang yang diupgrade masih layak pakai dan belum waktunya diganti.


Dengan kata lain, saya ingin menunjukkan pada mereka bahwa bersepeda itu harus disertai dengan kesadaran, sebenarnya bersepeda itu mau apa? Jika ingin sehat, berarti tidak usah ikut-ikutan membeli sepeda dengan harga jutaan demi gengsi semata. Maka mengutip tulisan budayawan Yogyakarta Indra Tranggono,


”Jika budaya bersepeda ini sudah menjadi gerakan massal, maka derajat sepeda pun akan meningkat: orang tidak malu lagi naik sepeda, meskipun sepedanya tergolong tidak trendi dan tidak mahal. Di sini yang dipentingkan adalah konteks bersepeda, bukan merek sepeda. Sebab, sepeda pun kini ada yang harganya jutaan. Jika orang mengejar merek, maka yang terjadi adalah persaingan. Cita-cita menanamkan pola hidup sederhana pun menjadi tidak berarti.”

Read more...

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP